Antara Diam

Terbangun dari mimpi buruk itu, aku keberatan mengatur prasangka. Perlahan kuberitahu diriku sendiri bahwa pertunangan dia dengan seorang yang dipilih orang tuanya itu bohong. Tapi sulit, masalahnya aku sendiri salah satu saksinya, dan ia riang saja ketika mengundangku menghadiri resepsi. Seperti tak terjadi apa-apa. Dan kalimat-kalimat manisnya yang ia kirim diterbang dingin malam kemarin ternyata palsu. BOHONG…!!

Kudirikan tubuh ini dari keterdiaman dan lembut kasur lantai. Kuyakinkan bahwa itu hanya benar-benar mimpi. Berusaha tak kupikirkan lagi sebisa mungkin. Tapi seseorang yang serupa denganku dalam cermin di samping mulai bicara tak mengenakkan.

“Kau bukan siapa-siapa,” katanya.

“Tak ada namamu dalam pilihannya, pria brengsek…!!”

Kalau saja kamar ini terletak di tengah laut, cermin itu telah berkeping saat itu juga.

Hari-hariku mulai terasa semakin tak logis. Mungkin mimpi buruk itu datang gara-gara seharian lambungku tak tersentuh apa pun. Selalu ada saja alasan kenapa setiap makanan tak lagi sedap. Terlalu banyak minyaklah, keasinan, baunya membuat mual, atau tak matang. Pokoknya aku enggan mengisi perut, tak ada tuh pikiran makan sebersit pun. Dan ternyata belum juga kupedulikan nasehat dia agar tak mengubah selera makan. Lucu, dan agak bersalah.

Bukan apa-apa, perut dan nafsu makan diatur juga oleh otak kan? Dan otak selalu saja bekerja sesuai perasaan hati si pemilik lambung sendiri. Bohong kalau tak ada pengaruhnya. Dulu juga aku berpikir begitu, ketika banyak teman-temanku yang merasakan hal seperti ini. Aku hanya tertawa mendengarnya, karena aku tak pernah merasakan hal sesinting ini sebelumnya. Sekarang semua ditumpahkan Tuhan padaku. Ok, Tuhan Maha Adil. Cukup.

Cermin tadi juga memberitahu bentuk fisikku saat ini. Tak ada perubahan mencolok memang, kecuali kantung mata yang menghitam dan menggelayut seperti pipi bulldog. Insomnia melanda sejak hampir 12 malam itu. Sekalinya bisa tidur-dan sangat sebentar sekali rasanya-mimpi buruk itu datang padahal tak kupesan. Sial. Kepalaku yang mulai seberat kapal selam ini tak peduli juga.

Tiba-tiba kerinduan akan sosoknya yang selama ini menemani imajiku terasa pekat sekali. Suaranya yang selembut sagu, senyumnya yang tak pernah tiris, tawa renyah daun jatuhnya, dan cemberutnya yang lucu-rasanya rotasi bumi berhenti bersamaan dengan wajahnya yang merengut itu.

Hei hei, aku bukan orang yang pandai membual rupanya.

Maka, kubalut segala rasa itu bersama angin pukul tiga. Kutangkap, kulesakkan dalam botol, kubisikkan botol itu agar angin didalamnya membentuk kata-kata senyap, selesai. Dari jendela sempit kamarku, kulemparkan botol itu hingga pecah dipeluk aspal suram. Angin itu akan bebas lagi, menuju jendelanya kuyakin, yang jauh nun dibalik cakrawala sana. Semoga rindu itu sampai.

Perutku tiba-tiba melintir. Kuremas-remas, ah… kepalaku ikut beban lagi.
Namun aku ingat, sebelum tubuhku jatuh di tepian jendela, ternyata segalanya bukan mimpi, ini nyata, mimpi buruk sialan tadi hanya menjebakku di antara diam.

Rindu ini, uh… Sakit… Menyakitkan… Membuatku tak peduli apa pun termasuk jerit tubuh. Tak apa, kuanggap saja semuanya sebagai hadiah tak ternilai dari Tuhan. Karena jauh di pelosok lemah tubuhku, sungguh tertanam hal terindah di dunia yang tak dapat dideskripsi secara lugas.


‘Seperti langit
‘Seperti cahaya
‘Seperti tata surya
‘Seperti tepi danau
‘Cinta, bagaimanapun rupanya
‘Akan tetap indah

Perlahan, aku jatuh dalam lemas dan kantuk yang tak dapat terkontrol. Dan di antara diam itu, aku percaya sajalah kalau mimpi buruk itu tak akan datang lagi.

Tahu-tahu dunia gelap…

(Catatan rindu dini hari, 8 Maret 09)

***

Aku tersadar dalam posisi tak mengenakkan. Tersender lemas di tepi jendela lepas. Angin matahari menerpa. Lambungku masih perih, kepala ini berat seperti selalu. Tahu-tahu panggilan Tuhan terdengar lagi. 3.15, tak sadar kulompati dzuhur. Astaghfirullah, maka kuseksamakan dengar irama. Suara-suara dari banyak sudut itu membawaku pergi. Seolah raga tak lagi satu dengan ruh. Dan selesai, diam, aku lapar lagi.

Tiba-tiba aku sadar telah bodoh menyiksa diri. Sial, perasaan ini ternyata ada buruknya juga. Semua hanya hasrat yang berlebih saja. Bodohnya diriku ini, toh bukannya dia sangat peduli? Bodoh, setelah ini aku mau makan sebanyak-banyaknya. Biar semangat dan pergi.

Aku akan mengunjungi rindu itu.

19 comments Maret 8, 2009

Hampir 12 Malam

Hampir 12 malam tiba-tiba sebuah pertanyaan datang, lebih mendadak dari flu yang memampatkan itu.

Aku tak tahu, tak pernah sedikit pun membayangkan, merasa-rasa, akan tiba waktu di mana semuanya kembali menggamangkan suasana secepat ini. Seperti yang telah kukatakan padanya berulang kali, bahwa ada kalanya semua rahasia terbuka, semua menjadi kembali pantas dipertanyakan. Wajar, namun terlalu mengagetkan.

Aku tahu, seperti dirinya yang tahu juga, pertanyaan itu menjebak kami dalam sebuah bentuk kekakuan lain. Dan aku tahu, seperti juga dirinya, pertanyaan itu tak perlu dijawab secara gamblang. Jawaban tepatnya mungkin hanyalah sebuah kepastian.

Lalu, akankah ada perilaku yang berubah akibat sebuah pertanyaan untuk sebuah pernyataan yang telah membuat suaraku kelu selama setengah windu ini?

Ada dua kemungkinan:
Jika aku menjawabnya saat itu juga, maka aku tak kan tahu apa sikap yang diambil selanjutnya oleh masing-masing kami. Atau pilihan kedua, dia akan pura-pura tak tahu, mendapati sunyi hampir 12 malam itu hanyalah sebuah mimpi. Dalam hal ini aku mungkin akan ikut bungkam. Agar segalanya kembali normal.

Namun, bisa saja prediksi itu meleset jauh, hanya gara-gara keterbalikan-aku yang bermimpi terlalu indah misalnya, atau hanya perasaanku yang berlebih. Terlalu percaya diri sehingga membuatku berada terbalik bersama posisinya saat ini.

Hanya satu yang kuharapkan, ketika dia membaca-kemungkinan besar ya-catatan ini, ada pengertian mendasar yang tertanam. Entah kapan, mungkin saja semenit kemudian teleponnya berdering, atau malah punyaku.

Uh, kenapa pertanyaan itu datang saat semuanya berjalan biasa saja?
Sampai detik ini, sejak hampir 12 malam itu, selera makanku belum kembali normal. Sebuah bentuk gila dari orang yang hatinya sedang gamang.

***

Segalanya menjadi ‘loveable’ mungkin saja. Kucing dalam plastik, ilalang, suara meriam tetangga, teriakan tukang bubur kacang hijau, bahkan sisi kasar tembok wc. Sinting.
Dan sementara aku duduk dalam sebuah sofa berbusa dilematik, meminta hatiku sendiri untuk diam-cerewet benar soalnya.
Tak apalah, ibaratnya membahagiakan diriku, atau-sebagaimana kucatat sebelumnya-mungkin hanya hatiku yang berlebihan.

Lalu kubangkitkan tubuhku yang rintih ini, berlari menuju titik tenang padang luas, menarik nafas sedalam mungkin, hanya untuk meneriakkan sebuah kalimat sok romantis.

“SAMBUT AKU DUNIA, SAMBUT AKU DENGAN CINTAMU…!!”

***

Entah mengapa belakangan hariku menjadi melankolis…

Dalam arti sebenarnya atau bisa juga dikonotasikan dengan ‘menangis perlahan, konyol, tak logis’ seperti dalam sebuah drama. Ya, drama. Hidupku berputar di balik layar sementara penonton menanti penampilanku yang tak jauh beda dengan karangan-karangan klasik karya orang-orang tua dengan kualitas terlupakan akibat pergeseran selera zaman. Menyedihkan.

Namun aku tak pernah berperan sebagai pribadi lain dalam drama mengenaskan itu. Aku benci drama. Hidupku sendiri sudah merupakan naskah drama menjijikan, mengapa harus ditambah dengan cerita aneh dalam sebuah skema intrik tak nyata seperti itu? Dramatisir. Tak paham pula dengan keadaan hati yang tengah dilanda sepi, padahal dunia ramai, langit teriak, bahkan udara cekikikan dalam helaan nafas.

Maka suaraku redam lagi bersama irama panggilan Tuhan.

“Marilah menuju kemenangan…”

Kunikmati panggilan itu, dan segalanya seolah-olah bergerak ke arah mati.

Ternyata benar, celoteh-celoteh banyak orang yang mengatakan cinta dapat mengubah orang ke bentuk apa saja yang dikira mereka aneh seaneh-anehnya. Seperti diriku yang pada detik ini sampai pada titik ketidakwarasan yang lebih tinggi lagi. Mentok ke langit-langit hampa.

Setelah kalimat sok romantis itu kuteriakkan sejadi-jadinya tanpa menggubris hidup senyap tanah-tanah sekelilingku, aku kembali terdiam. Rapuh bersama banyak pertanyaan yang muncul secara tiba-tiba, lagi.

Kujerembabkan diriku di tengah padang tenang. Belum rebah tubuhku daratan tahu-tahu longsor, membuatku terhenyak, kugapai-gapai sesuatu agar tak masuk ke lubang pertanyaan itu. Sia-sia. Jatuhku berhenti dalam sebuah lorong kesulitpercayaan. Dalam gelap itu kurangkai sebuah syair.


‘Segalanya kembali silam
‘Ketika kau mengatakan tidak dengan nada menyayat
‘Meluka dalam diamku
‘Meradang dalam sakitku
‘Tak akan pernah sedikit pun memori itu hilang
‘Walau rumput tajam mengorek isi otakku

‘Segalanya kembali silam
‘Suara banyak tanya tiba dalam ungkapmu
‘Kini diam serupa senjata
‘Bergerak sedikit menghancur
‘Bisa lebur dalam tanyamu
‘Atau lingkaran tanyaku

Semalam dia bilang agar aku tak mengubah selera makan. Aku tersenyum, tapi tak yakin bisa. Katanya ada pesan-membuat penasaran-tentu saja, dan semakin menyulitkan pengembalian selera makan itu. Huh, makanan tiba-tiba penting juga begitu, pantas diomeli. Lucu.

Ketika kubaca pesan itu, tubuh ini tiba-tiba terpaku. Seperti luruh saja. Kurasa dia-seperti diriku-membutuhkan sebuah kepastian. Namun, aku tak tahu-seperti juga dia-kapan segalanya menjadi jelas.

Segalanya kembali silam.

8 comments Maret 6, 2009

Dan Berakhir

Ditemani desiran angin dini hari Koteka duduk meregangkan tubuh di atas sofa. Menghadap sebuah danau kecil dengan jendela terbuka lebar, setengah kantuk, lelah dan puas. Wanita itu mendengkur. Berbalut selimut tipis tertidur membelakanginya sehingga tampak punggungnya yang halus tertimpa cahaya bulan. Menggairahkan.

Koteka mendesis licik. Setelah lima kali melepas gairah bersamanya bahkan ia tak merasa sepuas sekarang. Setelah semuanya terbongkar. Ia tak peduli lagi. Secantik apa pun si wanita tetap barang bagi Koteka. Tanpa bekas, pergi setelah dibayar.

Yang membuatnya merasa lega beban bukan soal itu.

Enam bulan sudah ia terbiasa seperti ini. Malah mulai bosan. Dua tiga hari selama seminggu tak pulang ke rumah setelah rapat tak penting, memesan lewat Tante Gono, pergi ke vila temannya untuk menggila itu. Vagini – istrinya yang terlihat selalu menyembunyikan sesuatu di balik senyum sambut di depan pintu – bahkan telah tahu lama. Dan Koteka juga sadar penuh soal Vagini. Bodoh kalau ia tak tahu karena berkali-kali istrinya itu terang-terangan membicarakan hal aneh lewat selular, dengan seseorang di seberang sana. Tak perlu memindai lebih jauh agar tahu bahwa yang dilakukan Vagini sama saja seperti dirinya. Soal ketidak puasan dan pelampiasan lain.

Entah siapa penyulut di antara mereka. Yang jelas janji 2 tahun lalu di altar itu tak lagi berarti. Menguap sudah seluruhnya.

Namun permainan ini telah usai, lima belas menit yang lalu. Kepura-puraan mereka dibongkarnya sendiri-sendiri, dengan tenang, tanpa emosi, lewat ponsel mereka bicara. Pernikahan tolol ini harus disudahi. Sambil tertawa-tawa mereka sadar sendiri. Dan mereka puas berpisah secara terus terang.

Koteka menguap lebar, menghampiri wanita telanjangnya lagi.

****

Untuk teman gila itu, ceritamu telah kutoreh secara seksama. Semoga kau sadar setelah ini, bahwa tak ada pernikahan yang salah kecuali tanpa cinta dan kejujuran.

17 comments Februari 14, 2009

an angel

without soul my body stand on the rail side
oh shit, i still be a not romance human
who cares?
anybody hear me?
cmon, give me some idea to cacth an angel

4 comments Februari 11, 2009

Previous Posts


PROLOG

SASTRA ADALAH TEMPAT DI MANA PARA GENERASI MEMBERONTAK TANPA TINDAKAN BRUTAL YANG MERUSAK PAPAN NAMA KETIDAKPEDULIAN TOLOL DENGAN TIDAK PURA-PURA MEMBELA NEGERI YANG DIKOTORI PARA PEMUNAFIK

(MOERZ)

Arsip

Oleh Mereka

sunarnosahlan di Antara Diam
meimeilaa di Blography
caleg partai blogger di Antara Diam
mfier di Antara Diam
jenderal abee di Antara Diam
natazya di Antara Diam
natazya di an angel
Chic di Antara Diam

MOERZ

Profil Facebook Moerjanto Ali

Meta

Feed