Archive for November, 2008
Proletar
Dan untuk para proletar / Mampuslah kalian para saudagar / Yang selalu berteriak,“Kerja yang benar!!” / Rampok hak rakyat segar-segar / Juragan memang pintar ucap kelakar / Nyalakan sonar / Rumah itu mari bakar / Biarkan bumi bergetar / Dan langit gelegar / Mampus kalian para saudagar…!!
*malam itu kapitalisme hancur*
10 comments November 25, 2008
Halo
Namun kakinya masih bergerak-gerak kelayapan seperti kijang dikejar harimau. Langkahnya panjang-panjang, Moerz mencoba lari dari kenyataan. Tiga bulan sudah pemuda harapan bangsa itu menganggur. Ijazahnya belum berguna, masa berlaku SKCK habis dan rumor Kartu Kuning dari sekolah tak laku untuk perusahan manapun sementara uang telah banyak dihamburkan untuk map cokelat yang ada talinya. Ughh… hidup begitu sulit, batinnya galau. Belum lagi melihat perangai ibunya. Orang tua itu memang tak pernah mendesak atau mengata-ngatai nasibnya sial atau karma. Setiap melihat anaknya ia hanya tersenyum segar dan mengerti.
“Sabar Ndu’, eling sama Khalik nanti kamu pasti dikasih yang terbaik,” begitu ucapnya.
“Biar gimana juga Bu, Moerz belum bisa balikin jutaan rupiah yang keluar sedari aku lahir.”
Ibunya tersenyum lagi, tenang.
“Yang penting kamu ini masih anak ibu toh. Eh, zaman sekarang banyak anak durhaka bukan?”
“Sinetron Bu?”
Ada dua mulut satu darah yang tersungging. Ada suara selular berdering. Oh, hari ini bapak tidak membawa HP. Ternyata sms dari kawan lamanya di dunia lain, minta ditelepon.
Moerz bercakap-cakap panjang lebar. Kawannya itu menawarkan pekerjaan di kantor perusahaan temannya. Tanpa pikir panjang esoknya ia langsung berangkat, agak jauh tapi tak apa.
“Bismillah Ndu’, hati-hati,” pesan ibunya.
Untuk lulusan SMK Moerz tidak berharap banyak tentang pekerjaan yang pantas, asal kerja yang penting ibu sama bapak senang. Jadi apa saja ia mau. Dan besoknya ia langsung diterima di perusahaan itu sebagai designer grafis. Benar kata ibunya, Tuhan kasih yang paling baik. Semua orang di sana bilang, “Halo, salam kenal Moerz.”
Sudah satu minggu ini. Ya, entah bagaimana caranya berterima kasih kepada kawannya itu. Jelas, Moerz hari ini pergi ke stasiun yang telah lama tak ia kunjungi.
*****
Untuk kawan itu (saya yakin ia tak mau disebutkan namanya)
Terima kasih.
21 comments November 20, 2008


