Hampir 12 Malam

Maret 6, 2009

Hampir 12 malam tiba-tiba sebuah pertanyaan datang, lebih mendadak dari flu yang memampatkan itu.

Aku tak tahu, tak pernah sedikit pun membayangkan, merasa-rasa, akan tiba waktu di mana semuanya kembali menggamangkan suasana secepat ini. Seperti yang telah kukatakan padanya berulang kali, bahwa ada kalanya semua rahasia terbuka, semua menjadi kembali pantas dipertanyakan. Wajar, namun terlalu mengagetkan.

Aku tahu, seperti dirinya yang tahu juga, pertanyaan itu menjebak kami dalam sebuah bentuk kekakuan lain. Dan aku tahu, seperti juga dirinya, pertanyaan itu tak perlu dijawab secara gamblang. Jawaban tepatnya mungkin hanyalah sebuah kepastian.

Lalu, akankah ada perilaku yang berubah akibat sebuah pertanyaan untuk sebuah pernyataan yang telah membuat suaraku kelu selama setengah windu ini?

Ada dua kemungkinan:
Jika aku menjawabnya saat itu juga, maka aku tak kan tahu apa sikap yang diambil selanjutnya oleh masing-masing kami. Atau pilihan kedua, dia akan pura-pura tak tahu, mendapati sunyi hampir 12 malam itu hanyalah sebuah mimpi. Dalam hal ini aku mungkin akan ikut bungkam. Agar segalanya kembali normal.

Namun, bisa saja prediksi itu meleset jauh, hanya gara-gara keterbalikan-aku yang bermimpi terlalu indah misalnya, atau hanya perasaanku yang berlebih. Terlalu percaya diri sehingga membuatku berada terbalik bersama posisinya saat ini.

Hanya satu yang kuharapkan, ketika dia membaca-kemungkinan besar ya-catatan ini, ada pengertian mendasar yang tertanam. Entah kapan, mungkin saja semenit kemudian teleponnya berdering, atau malah punyaku.

Uh, kenapa pertanyaan itu datang saat semuanya berjalan biasa saja?
Sampai detik ini, sejak hampir 12 malam itu, selera makanku belum kembali normal. Sebuah bentuk gila dari orang yang hatinya sedang gamang.

***

Segalanya menjadi ‘loveable’ mungkin saja. Kucing dalam plastik, ilalang, suara meriam tetangga, teriakan tukang bubur kacang hijau, bahkan sisi kasar tembok wc. Sinting.
Dan sementara aku duduk dalam sebuah sofa berbusa dilematik, meminta hatiku sendiri untuk diam-cerewet benar soalnya.
Tak apalah, ibaratnya membahagiakan diriku, atau-sebagaimana kucatat sebelumnya-mungkin hanya hatiku yang berlebihan.

Lalu kubangkitkan tubuhku yang rintih ini, berlari menuju titik tenang padang luas, menarik nafas sedalam mungkin, hanya untuk meneriakkan sebuah kalimat sok romantis.

“SAMBUT AKU DUNIA, SAMBUT AKU DENGAN CINTAMU…!!”

***

Entah mengapa belakangan hariku menjadi melankolis…

Dalam arti sebenarnya atau bisa juga dikonotasikan dengan ‘menangis perlahan, konyol, tak logis’ seperti dalam sebuah drama. Ya, drama. Hidupku berputar di balik layar sementara penonton menanti penampilanku yang tak jauh beda dengan karangan-karangan klasik karya orang-orang tua dengan kualitas terlupakan akibat pergeseran selera zaman. Menyedihkan.

Namun aku tak pernah berperan sebagai pribadi lain dalam drama mengenaskan itu. Aku benci drama. Hidupku sendiri sudah merupakan naskah drama menjijikan, mengapa harus ditambah dengan cerita aneh dalam sebuah skema intrik tak nyata seperti itu? Dramatisir. Tak paham pula dengan keadaan hati yang tengah dilanda sepi, padahal dunia ramai, langit teriak, bahkan udara cekikikan dalam helaan nafas.

Maka suaraku redam lagi bersama irama panggilan Tuhan.

“Marilah menuju kemenangan…”

Kunikmati panggilan itu, dan segalanya seolah-olah bergerak ke arah mati.

Ternyata benar, celoteh-celoteh banyak orang yang mengatakan cinta dapat mengubah orang ke bentuk apa saja yang dikira mereka aneh seaneh-anehnya. Seperti diriku yang pada detik ini sampai pada titik ketidakwarasan yang lebih tinggi lagi. Mentok ke langit-langit hampa.

Setelah kalimat sok romantis itu kuteriakkan sejadi-jadinya tanpa menggubris hidup senyap tanah-tanah sekelilingku, aku kembali terdiam. Rapuh bersama banyak pertanyaan yang muncul secara tiba-tiba, lagi.

Kujerembabkan diriku di tengah padang tenang. Belum rebah tubuhku daratan tahu-tahu longsor, membuatku terhenyak, kugapai-gapai sesuatu agar tak masuk ke lubang pertanyaan itu. Sia-sia. Jatuhku berhenti dalam sebuah lorong kesulitpercayaan. Dalam gelap itu kurangkai sebuah syair.


‘Segalanya kembali silam
‘Ketika kau mengatakan tidak dengan nada menyayat
‘Meluka dalam diamku
‘Meradang dalam sakitku
‘Tak akan pernah sedikit pun memori itu hilang
‘Walau rumput tajam mengorek isi otakku

‘Segalanya kembali silam
‘Suara banyak tanya tiba dalam ungkapmu
‘Kini diam serupa senjata
‘Bergerak sedikit menghancur
‘Bisa lebur dalam tanyamu
‘Atau lingkaran tanyaku

Semalam dia bilang agar aku tak mengubah selera makan. Aku tersenyum, tapi tak yakin bisa. Katanya ada pesan-membuat penasaran-tentu saja, dan semakin menyulitkan pengembalian selera makan itu. Huh, makanan tiba-tiba penting juga begitu, pantas diomeli. Lucu.

Ketika kubaca pesan itu, tubuh ini tiba-tiba terpaku. Seperti luruh saja. Kurasa dia-seperti diriku-membutuhkan sebuah kepastian. Namun, aku tak tahu-seperti juga dia-kapan segalanya menjadi jelas.

Segalanya kembali silam.

Entry Filed under: Rangkaian Kata. .

8 Comments Add your own

  • 1. edy  |  Maret 6, 2009 at 4:04 am

    lagi jatuh cinta, moer?
    4 tahun? :shock:

  • 2. Sawali Tuhusetya  |  Maret 6, 2009 at 11:45 am

    12 malam berada dalam sebuah penantian? 12 malam tentu telah menghadirkan banyak renungan dan refleksi agar cinta yang kandas bisa segera bangkit kembali. *walah*

  • 3. abeeayang  |  Maret 7, 2009 at 12:23 am

    dari dulu beginilah cinta…. :D

  • 4. Moerz  |  Maret 7, 2009 at 1:53 am

    ~ Om Edy : ga apa-apa, baru 4 tahun… heheh..
    ~ Pak Sawali : terima kasih kalimatnya pak…
    ~ Abeeayang : ya begitu deh…

  • 5. Yari NK  |  Maret 7, 2009 at 2:30 am

    Sama2 menuntut kepastian tetapi sama2 tidak bisa memberi kepastian. Cinta Dunia yang aneh….. :mrgreen:

  • 6. muhamaze  |  Maret 7, 2009 at 6:22 am

    masih hampir 12 malam, belum genap 1 bulan sudah terasa penuh cinta..

    salam kenal..

  • 7. Infinite Justice  |  Maret 7, 2009 at 6:59 am

    seperti biasa, tulisan macam ini membebaskan para komentator buat menafsirkan menurut pengertian masing2. kalau yang saya tangkap sih, Moerz barusan ditolak cintanya, nggak bisa tidur sampai tengah malam, lalu merasa bahwa ibadah tengah malam, bersimpuh di hadapan Yang Maha Kuasa adalah salah satu obat penenang… :mrgreen:

    *sok tahu*
    *dilempar bantal*

    sebenarnya ada apakah gerangan yang terjadi? soalnya buat saya pribadi, jam 12 malam adalah batas. apabila saya masih terjaga sampai jam 12 malam, biasanya saya akan kesulitan tidur sampai pagi menjelang…

  • 8. Moerz  |  Maret 7, 2009 at 8:13 am

    ~ Pak Yari : bener banget tuh pak… masing2 ego…
    ~ Muhamaze : keren…
    ~ Infinite Justice : sembarangan bener…. complicated nih…

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


PROLOG

SASTRA ADALAH TEMPAT DI MANA PARA GENERASI MEMBERONTAK TANPA TINDAKAN BRUTAL YANG MERUSAK PAPAN NAMA KETIDAKPEDULIAN TOLOL DENGAN TIDAK PURA-PURA MEMBELA NEGERI YANG DIKOTORI PARA PEMUNAFIK

(MOERZ)

Arsip

Oleh Mereka

meimeilaa di Blography
caleg partai blogger di Antara Diam
mfier di Antara Diam
jenderal abee di Antara Diam
natazya di Antara Diam
natazya di an angel
Chic di Antara Diam
jenderal abee di Antara Diam

MOERZ

Profil Facebook Moerjanto Ali

Meta

Feed