Antara Diam
Maret 8, 2009
Terbangun dari mimpi buruk itu, aku keberatan mengatur prasangka. Perlahan kuberitahu diriku sendiri bahwa pertunangan dia dengan seorang yang dipilih orang tuanya itu bohong. Tapi sulit, masalahnya aku sendiri salah satu saksinya, dan ia riang saja ketika mengundangku menghadiri resepsi. Seperti tak terjadi apa-apa. Dan kalimat-kalimat manisnya yang ia kirim diterbang dingin malam kemarin ternyata palsu. BOHONG…!!
Kudirikan tubuh ini dari keterdiaman dan lembut kasur lantai. Kuyakinkan bahwa itu hanya benar-benar mimpi. Berusaha tak kupikirkan lagi sebisa mungkin. Tapi seseorang yang serupa denganku dalam cermin di samping mulai bicara tak mengenakkan.
“Kau bukan siapa-siapa,” katanya.
“Tak ada namamu dalam pilihannya, pria brengsek…!!”
Kalau saja kamar ini terletak di tengah laut, cermin itu telah berkeping saat itu juga.
Hari-hariku mulai terasa semakin tak logis. Mungkin mimpi buruk itu datang gara-gara seharian lambungku tak tersentuh apa pun. Selalu ada saja alasan kenapa setiap makanan tak lagi sedap. Terlalu banyak minyaklah, keasinan, baunya membuat mual, atau tak matang. Pokoknya aku enggan mengisi perut, tak ada tuh pikiran makan sebersit pun. Dan ternyata belum juga kupedulikan nasehat dia agar tak mengubah selera makan. Lucu, dan agak bersalah.
Bukan apa-apa, perut dan nafsu makan diatur juga oleh otak kan? Dan otak selalu saja bekerja sesuai perasaan hati si pemilik lambung sendiri. Bohong kalau tak ada pengaruhnya. Dulu juga aku berpikir begitu, ketika banyak teman-temanku yang merasakan hal seperti ini. Aku hanya tertawa mendengarnya, karena aku tak pernah merasakan hal sesinting ini sebelumnya. Sekarang semua ditumpahkan Tuhan padaku. Ok, Tuhan Maha Adil. Cukup.
Cermin tadi juga memberitahu bentuk fisikku saat ini. Tak ada perubahan mencolok memang, kecuali kantung mata yang menghitam dan menggelayut seperti pipi bulldog. Insomnia melanda sejak hampir 12 malam itu. Sekalinya bisa tidur-dan sangat sebentar sekali rasanya-mimpi buruk itu datang padahal tak kupesan. Sial. Kepalaku yang mulai seberat kapal selam ini tak peduli juga.
Tiba-tiba kerinduan akan sosoknya yang selama ini menemani imajiku terasa pekat sekali. Suaranya yang selembut sagu, senyumnya yang tak pernah tiris, tawa renyah daun jatuhnya, dan cemberutnya yang lucu-rasanya rotasi bumi berhenti bersamaan dengan wajahnya yang merengut itu.
Hei hei, aku bukan orang yang pandai membual rupanya.
Maka, kubalut segala rasa itu bersama angin pukul tiga. Kutangkap, kulesakkan dalam botol, kubisikkan botol itu agar angin didalamnya membentuk kata-kata senyap, selesai. Dari jendela sempit kamarku, kulemparkan botol itu hingga pecah dipeluk aspal suram. Angin itu akan bebas lagi, menuju jendelanya kuyakin, yang jauh nun dibalik cakrawala sana. Semoga rindu itu sampai.
Perutku tiba-tiba melintir. Kuremas-remas, ah… kepalaku ikut beban lagi.
Namun aku ingat, sebelum tubuhku jatuh di tepian jendela, ternyata segalanya bukan mimpi, ini nyata, mimpi buruk sialan tadi hanya menjebakku di antara diam.
Rindu ini, uh… Sakit… Menyakitkan… Membuatku tak peduli apa pun termasuk jerit tubuh. Tak apa, kuanggap saja semuanya sebagai hadiah tak ternilai dari Tuhan. Karena jauh di pelosok lemah tubuhku, sungguh tertanam hal terindah di dunia yang tak dapat dideskripsi secara lugas.
—
‘Seperti langit
‘Seperti cahaya
‘Seperti tata surya
‘Seperti tepi danau
‘Cinta, bagaimanapun rupanya
‘Akan tetap indah
—
Perlahan, aku jatuh dalam lemas dan kantuk yang tak dapat terkontrol. Dan di antara diam itu, aku percaya sajalah kalau mimpi buruk itu tak akan datang lagi.
Tahu-tahu dunia gelap…
(Catatan rindu dini hari, 8 Maret 09)
***
Aku tersadar dalam posisi tak mengenakkan. Tersender lemas di tepi jendela lepas. Angin matahari menerpa. Lambungku masih perih, kepala ini berat seperti selalu. Tahu-tahu panggilan Tuhan terdengar lagi. 3.15, tak sadar kulompati dzuhur. Astaghfirullah, maka kuseksamakan dengar irama. Suara-suara dari banyak sudut itu membawaku pergi. Seolah raga tak lagi satu dengan ruh. Dan selesai, diam, aku lapar lagi.
Tiba-tiba aku sadar telah bodoh menyiksa diri. Sial, perasaan ini ternyata ada buruknya juga. Semua hanya hasrat yang berlebih saja. Bodohnya diriku ini, toh bukannya dia sangat peduli? Bodoh, setelah ini aku mau makan sebanyak-banyaknya. Biar semangat dan pergi.
Aku akan mengunjungi rindu itu.
Entry Filed under: Rangkaian Kata. .
18 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed



1.
Moerz | Maret 8, 2009 at 4:53 am
ih, lagi demen sama orang bikin produktif juga…
hahaha…
2.
edy | Maret 8, 2009 at 5:41 am
power of love, moer
ga mesti jadi sesuatu yg manis kan?
3.
Menik | Maret 8, 2009 at 5:57 am
life an love.. sometimes good sometimes hurt..
4.
Yari NK | Maret 8, 2009 at 6:38 am
Dulu saya kalau jatuh cinta dan berimajinasi di tempat tidur **halaah** biasanya tidurnya malah langsung cepet. Bahkan ketika terjadi pertengkaranpun masih bisa tidur cepet. Huehehe…..
5.
Sawali Tuhusetya | Maret 8, 2009 at 7:17 am
terlalu banyak mengkhayal dan berimajinasi tentang dia, agaknya akan memperbanyak frekeuensi mimpi tentang dia, mas moerz. konon, satu burung di tangan itu lebih baik daripada 10 burung di udara, kekeke ….
6.
hmcahyo | Maret 8, 2009 at 8:16 am
makasih ddah mampir
7.
mbelGedez™ | Maret 8, 2009 at 12:10 pm
.
Kalo lagi rindu, coba kunjungi http://rinduku.wordpress.com
8.
antown | Maret 9, 2009 at 7:28 am
kalo kantung mata menghitam bisa dimainkan di photoshop….hehehe
ok gudlak ya!!
9.
sunarnosahlan | Maret 10, 2009 at 1:40 pm
turut menikmati tulisan yang ada
10.
abee | Maret 11, 2009 at 2:00 pm
jadikan dini sebagai pelajaran dan cambuk diri untuk memacu lebih baik….
*cambuk moerz*
11.
Laston | Maret 12, 2009 at 7:54 am
Cinta lebih indah bila dihargai..
Salam kenal
12.
Infinite Justice | Maret 14, 2009 at 3:34 am
memang beginilah cinta… deritanya tiada akhir… (quote from Tie Pat Kay)
lartu dalam kesedihan gara2 merasa dikhianati, ditinggal lari, diduakan atau apalah… kayaqnya saya pernah mengalami semuanya. bersedih itu boleh saja, asal sebentar dan jangan terlalu lama. apalagi kalau orang yang menyakiti kita itu tetap hidup bahagia seperti biasa, maka rugilah kita kalau hanya kita yang terasa berhenti kehidupannya…
tetep semangat, masbro… karena siapa tahu ~ ada hal2 baik yang akan kita temui bila kita tetap bertekad terus maju dan berjalan…
13.
jenderal abee | Maret 14, 2009 at 3:40 am
semangat moerz…..
14.
Chic | Maret 17, 2009 at 7:10 am
dengan begitu, kamu adalah manusia…
15.
natazya | Maret 21, 2009 at 9:59 am
sakitnya juga jadi manis kalau dinikmati pelan pelan…
16.
jenderal abee | Maret 22, 2009 at 3:09 pm
bangun2…!
17.
mfier | Maret 26, 2009 at 6:46 am
dorrr…
18.
caleg partai blogger | Maret 29, 2009 at 10:00 am
eh nih anak………..!!!