Naga Terbang

Jakarta Kota 08 pagi. Moerz menatap kuyu kaca-kaca loket tak bertuan itu. Kereta ke Serpong berangkat pukul 11. Jadwal kacau…

***

Di atas trans, air conditioner meniup ringan mengeringkan peluh. Bagi Moerz, tak percumalah berlari mengejar bus ini, yang penting ia tak tiba terlalu telat. Sembari memandang sungai cemar di seberang tol, Moerz mengutuk seseorang yang lebih mementingkan potongan rambutnya daripada dirinya yang terjebak dalam situasi tertekan.
“Payjo sinting!!”

***

Layaknya seorang selebriti santun, Caplang menyambut–dengan cengir lebarnya yang memuakkan–sang pria tampan di muka umum. Moerz menyalami mereka satu persatu acuh tak acuh. Perutnya terusik. Sial, kalau begini tak perlu berangkat pukul 7 mencampakkan sarapan itu. Moerz kesal lagi.
Lombanya belum mulai. Untuk menghilangkan rasa lapar, ia memandang wajah seorang tambun di hadapannya. Moerz terkekeh–dalam hati. Dasar bejad, batinnya.

***

“YATA.. YATA..!!”
Sesi 3, terburu-buru melahap, melirik sedikit ke kanan. Moerz mengangkat mangkuknya, panas-panas, kutukan lagi.
“Om Eka edan!!”

***

Panas, pedas, Moerz menyusul seorang pria pembohong itu. Sama seperti dirinya, ia mencari toilet. Sampai toilet, ia membuang berliter-liter air seni (pedasnya minta ampun), mencuci tangannya, keluar. Eh, Moerz masuk lagi. Memanggil-manggil sebuah nama, tak ada jawaban. Memanggil, jawabannya hanya desisan. Bau tak sedap merebak. Secepat kilat Moerz kabur meninggalkan Payjo yang tengah menikmati buang hajat. Baunya, Kawan, seperti mobil sedot wc. Cih, menjijikan…!!

***

Epilogue
Joy dan Chic terus menggoda anaknya. Sedikit banyak Moerz membayangkan berada dalam keadaan bahagia tersebut. Beberapa saat kemudian ia turun, mengucapkan terima kasih, dan berlalu. Seperti naga terbang, perutnya yang tadi lapar kini perih tak terkira. Kali ini ia tak hanya mengutuk satu nama.
“Orang-orang Tangerang sinting semua…!!”
Lain kali, kalau ada undangan makan seperti hari ini lagi, entah ia akan datang lagi atau tidak.

***

4 comments Januari 25, 2009

Proletar

proletarDan untuk para proletar / Mampuslah kalian para saudagar / Yang selalu berteriak,“Kerja yang benar!!” / Rampok hak rakyat segar-segar / Juragan memang pintar ucap kelakar / Nyalakan sonar / Rumah itu mari bakar / Biarkan bumi bergetar / Dan langit gelegar / Mampus kalian para saudagar…!!

*malam itu kapitalisme hancur*

10 comments November 25, 2008

Halo

pict01Namun kakinya masih bergerak-gerak kelayapan seperti kijang dikejar harimau. Langkahnya panjang-panjang, Moerz mencoba lari dari kenyataan. Tiga bulan sudah pemuda harapan bangsa itu menganggur. Ijazahnya belum berguna, masa berlaku SKCK habis dan rumor Kartu Kuning dari sekolah tak laku untuk perusahan manapun sementara uang telah banyak dihamburkan untuk map cokelat yang ada talinya. Ughh… hidup begitu sulit, batinnya galau. Belum lagi melihat perangai ibunya. Orang tua itu memang tak pernah mendesak atau mengata-ngatai nasibnya sial atau karma. Setiap melihat anaknya ia hanya tersenyum segar dan mengerti.

“Sabar Ndu’, eling sama Khalik nanti kamu pasti dikasih yang terbaik,” begitu ucapnya.

“Biar gimana juga Bu, Moerz belum bisa balikin jutaan rupiah yang keluar sedari aku lahir.”

Ibunya tersenyum lagi, tenang.

“Yang penting kamu ini masih anak ibu toh. Eh, zaman sekarang banyak anak durhaka bukan?”

“Sinetron Bu?”

Ada dua mulut satu darah yang tersungging. Ada suara selular berdering. Oh, hari ini bapak tidak membawa HP. Ternyata sms dari kawan lamanya di dunia lain, minta ditelepon.

Moerz bercakap-cakap panjang lebar. Kawannya itu menawarkan pekerjaan di kantor perusahaan temannya. Tanpa pikir panjang esoknya ia langsung berangkat, agak jauh tapi tak apa.

“Bismillah Ndu’, hati-hati,” pesan ibunya.

Untuk lulusan SMK Moerz tidak berharap banyak tentang pekerjaan yang pantas, asal kerja yang penting ibu sama bapak senang. Jadi apa saja ia mau. Dan besoknya ia langsung diterima di perusahaan itu sebagai designer grafis. Benar kata ibunya, Tuhan kasih yang paling baik. Semua orang di sana bilang, “Halo, salam kenal Moerz.”

Sudah satu minggu ini. Ya, entah bagaimana caranya berterima kasih kepada kawannya itu. Jelas, Moerz hari ini pergi ke stasiun yang telah lama tak ia kunjungi.

*****

Untuk kawan itu (saya yakin ia tak mau disebutkan namanya)
Terima kasih.

21 comments November 20, 2008

Next Posts


PROLOG

SASTRA ADALAH TEMPAT DI MANA PARA GENERASI MEMBERONTAK TANPA TINDAKAN BRUTAL YANG MERUSAK PAPAN NAMA KETIDAKPEDULIAN TOLOL DENGAN TIDAK PURA-PURA MEMBELA NEGERI YANG DIKOTORI PARA PEMUNAFIK

(MOERZ)

Arsip

Oleh Mereka

meimeilaa di Blography
caleg partai blogger di Antara Diam
mfier di Antara Diam
jenderal abee di Antara Diam
natazya di Antara Diam
natazya di an angel
Chic di Antara Diam
jenderal abee di Antara Diam

MOERZ

Profil Facebook Moerjanto Ali

Meta

Feed